TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

September 7, 2014 at 8:56 am (Uncategorized)

PENDAHULUAN

Kepemimpinan Islam meliputi banyak hal, karena seorang pemimpin dalam perspektif islam memilili fungsi ganda yanitu: sebagai seorang khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi yang harus merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Dan sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang patuh dan senantiasa terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Pemimpin ialah seorang yang diserahi untuk mengatur urusan-urusan dan kemaslahatan bersama yang sangat diperlukan. Seperti kepala Negara, Menteri, Dewan perwakilan, dan lain sebagainya SWT.
Dalam pandangan Islam pemimpin adalah orang yang diberikan amanat oleh Allah SWT. Untuk memimpin rakatnya, yang diakhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits diatas. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meloloskan diri dari tuntunan rakyatnya, karea ketidakadilannya, akan tetapi ia tidak mempu meloloskan diri dari tuntutan Allah SWT kelak di akhirat.
Setiap orang Islam harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dan segala tindakannya tanpa didasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu.

BAB II
PENJELASAN
A. PEMIMPIN
1. Pengertian Pemimpin
Ott (1996) mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses hunungan antar pribadi yang didalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan dan perilaku orang lain. Adapun menurut Lock et al (1991) kepemimpinan sebagai proses membentuk orang lain untuk mnegambil langkah menuju sasaran bersama. Sehubung dengan kedua pendapat tersebut, Soehardi Sigit mengutip pendapat George R. Terry yang mengatakan bahwa: “leadership is the relationship in wich on the person, the leader, influence the others to work together willingly on related task to attain that which the leader desire ” (Kepemimpinan adalah hubungan dimana didalamnya antara orang dan pemimpin saling mempengaruhi agar mau bekerjasama berbagai tugas untuk mencapai keinginan sang pemimpin.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dan yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi atau membujuk. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuan dalam melaksanakan program-program yang ada, tetapi juga mampu melibatkan seluruh lapisan organisasinya atau masyarakatnya ikut andil atau berpartisipasi secara aktif, sehingga akan memunculkan kontribusi yang positif pula.
2. Kepemimpinan dalam Islam
Kepemimpinan Islam meliputi banyak hal, karena seorang pemimpin dalam perspektif islam memilili fungsi ganda yanitu: sebagai seorang khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi yang harus merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Dan sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang patuh dan senantiasa terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah SWT. Jika dilihat teori dan fungsi dan peran seorang pemimpin oleh pemikir-pemikir dari dunia barat, maka kita hanya menemukan kepemimpinan itu sebagai sebuah komsep realisi, proses otoritas meupun kegiatan mempengaruhi secara horisontal.
Dalam teori manajemen, fungsi pemimpin diletakkan pada posisi yang tidak terlalu berbeda dengan peran pemimpin dalam teori kepemimppinan yaitu sebagai perencana sekaligus pengambil keputusan (planing and decision make), pengorganisasian (controlling) dan lain-lain.
Adapun pengertian kepemimpinan Islam dapat dilihat dario pendapat Hadari Nawawi dalam bukunya (Kepemimpinan Menurut Islam. Hal, 39) adalah sebagai berikut sebagai berikut:
a. Pengertian Spiritual
Dalam islam kepemipinan berasal dari kata “khalifah” yang berarti wakil, ataupun “amir” (jamak dari Umara) ataupun penguasa. Oleh karena itu, kemudian kedua istilah ini didalam Bahasa Indonesia disebut pemimpin yang cenderung berkonotasi pemimpin formal. Namun jika merujuk pada firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 30, sebagai berikut:

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah, 2: 30)

Maka kedudukan non formal dari seorang khalifah juga tidak bisa disangkal lagi. Perkataan Khalifah di dalam ayat tersebut tidak hanya ditujukan kepada para khalifah sesudah Nabi, tetapi adalah penciptaan Nabi Adam yang disebut sebagai manusia dengan tugas untuk memakmurkan bumi yang meliputi tuigas menyeru orang lain berbuat ma’ruf dam mencegah dari perbuatan mungkar.
Dalam pengertian spiritual ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan islam secara mutlak adalah bersumber dari Allah SWT yang telah menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Sehingga dimensi kontol tidak terbatas pada interaksi antara yang memimpin (umara) dengan yang dipimpin, tetapi baik antara pemimpin maupun rakyat yang dipeimpin harus sama-sama mempertanggung-jawabkan amanah yang diembannya sebagai seorang khalifah Allah dimuka bumi ini, secara komprehensif.
b. Pengertian Empiris
Kepemimpinan adalah kegiatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam sejarah kehidupan manusia tentnya sangat banyak pengalaman kepemimpinan yang dapat dipelajarinya. Pengalaman itu perlu dianalisis untuk mendapatkan pelajaran yang bereharga dalam mewujudkan kepemimpinan yang efektif dan diridhai oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan konsep yang ada didalam Al-Quran, yang didalamnya banyak dimuat kisah-kisah umat masalalu sebagai pelajaran bagi umat yang akan datang
Untuk memahami kepemimpinan secara empiris ini, maka perlu dipahami terlebih dahulu tinjauan dari segi terminologinya. Secara etimologis (ilmu asal kata) berdasarkan kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “pimpin” dengan mendapatkan kata awal “me” yang berarti menuntun, menunjukkan jalan, membimbing. Perkataan lain yang disamakan artinya adalah mengetuai, mengepalai, memandu dan melatih. Dalam bentuk kegiatan, maka sipelaku disebut pemimpin. Dengan kata lain pemimpin adalah oarang yang memimpib, mengetuai atau mengepalai. Dari sini berkembang lagi istilah “Kepemimpinan” dengan tambahan awalan “ke”, yang menunjukkan pada semua aspek kepemimpinan.
Dalam Al-Qur’an banyak dijumpai istilah-istilah yang berhubungan dengan pemimpin. Seperti istilah khalifah yang terdapat pada QS. Al-baqarah: 30, istilah Ulil Amri yang terdapat QS An-Nisa:59, istilah Wali, yang disebutkan dalam QS. Al-Maidah: 55. Dalam hadits Nabi, istilah pemimpin dijimpai dalam kalimat “La’in atau amir” seperti dalam hadits yang disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari. Istilah-istilahtersebuit memberi pengertian bahwa kepemimpinan adalah kegiatan menuntun, memandu dan menunjukkan jalan yang dirihai Allah.

Pemimpin ialah seorang yang diserahi untuk mengatur urusan-urusan dan kemaslahatan bersama yang sangat diperlukan. Seperti kepala Negara, Menteri, Dewan perwakilan, dan lain sebagainya.

Artinya :“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara, imam) adalah pemimpin manusia secara umum,akan dimintai per-tanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai petanggungjawab atas mereka. Seorang istri adalah seorang pemoimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuialah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai petanggungjawaban atas siapa saja yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari, Kitab: “Mmbebaskan budak (49). Bab: Larangan memperpanjang kebudakan.(17)”.

Hadits diatas menjelaskan tentang kepemimpinan. setiap muslim dalam berbagai posisi dan tingkatannya. Mulai dari tingkatan pemimpin rakyat sampai tingkatan pengembala, bahkan sebenarnya tersirat sampai tingkatan memimpin diri sendiri. Semua orang pasti memiliki tanggungjawab dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas kepemimpinannya kelak di akhirat.

B. PERTANGGUNGJAWABAN PEMIMPIN

Artinya :Dari Abu Ya’la Ma’qil bin Yasar r.a, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Seorang hamba yang diberi Allah SWT kepercayaan memimpin rakyatnya, dan ia mati dalam keadaan menipu rakyat, pasti Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat muslim dikatakan: “Seorang penguasa yang menguasai urusan umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan dan memberi nasihat, pasti ia tidak akan masuk surga bersama mereka”

Artinya : Dari Aisyah r.a, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda dirumahku ini: “Ya Allah, siapa saja yang diberi kekuasaan mengurusi umatku kemudian ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.” (HR. Muslim)

Arinya : Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu, bani Israil selaklu dibimbing oleh para Nabi. Setiap seorang Nabi wafat, maka ia digantikan oleh Nab yang lain. Tetapi tidak akan ada lagi Nabi sesudah-ku, yang ada hanya para khalifah, bahkan sangat banyak jumlahnya.” Para sahabat bertanya:’Apa yang engkau perintahkan pada kami?’ Beliau menjawab: “Tepatilah bai’at-mu (janji setia) yang pertama, kemudian berikan kepada mereka apa yang menjadi haknya. Dan Mohonlah kepada Allah agar apa yang menjadi hakmu terpenuhi. Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka didalam memimpin umat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya : Dari Abu Maryam Al-Azdiy r.a, ia berkata keada Mu’awiyah r.a: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah mengurusi umat islam, sedang ia tidak memperhatikan kediudukan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedudukan, dan kemiskinannya pada hari kiamat.” Kemudia Mu’awiyah mengangkat seseorang untuk mengurusi segala kepentingan manusia. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

C. ETIKA PEMIMPIN
1. Perspektif Al-Qur’an
Al-qur’an sebagai pedoman utama umat Islam telah memberikan kriteria-kriteria tertentu sebagai landasan bagi seorang pemimpin, adapun kriteria sebagai berikut:
a. Mencintai kebenaran
b. Dapat menjaga amanah
c. Ikhlas dan meniliki semangat pengabdian
d. Baik dalam pergaulan masyarakat
e. Bijaksana
2. Perspektif al-Hadits
a. Memimpin untuk melayani
b. Zuhud terhadap kekuasaan
c. Jujur dan tidak munafik
d. Memiliki visi keummatan (Terbebas dari fanatisme)
e. Memiliki Tanggungjawab Moral

Artinya : Al-Hasan berkata, Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qal bin Yasar r.a ketika ia sakit, yang menyebabkan kematannya, Ma’qal berkata kepada Ubaidillah bin Ziyad, ‘Aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah SAW, aku telah mendengar Nabi SAW bersabda: “Tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyatnya oleh Allah SWT lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan Allah tidak akan merasakan padanya harumnya surga (melainkan tidak mendapat bau surga.”
(Imam Bukhari dalam kitab “Hukum-hukum”, bab: “Orang yang bideri amanat kepemimpinannya.”)

Dalam pandangan Islam pemimpin adalah orang yang diberikan amanat oleh Allah SWT. Untuk memimpin rakatnya, yang diakhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits diatas. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meloloskan diri dari tuntunan rakyatnya, karea ketidakadilannya, akan tetapi ia tidak mempu meloloskan diri dari tuntutan Allah SWT kelak di akhirat.

Maka hendaklah seorang pemimpin harus berusaha memposisikan dirinya sebahai pelayan dan pengayom masyarakat sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Dalam sebuah hadits yang diterima oleh Siti Aisyah dan diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah berdo’a, “Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku dan berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya sangat perduli terhadap hambanya agar terjaga dari kedzaliman para pemimpin yang kejam dan tidak bertanggungjawab. Perintah yang kejam dikategorikan sebagai sejahat-jahatnya perintah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut:

Arinya : “A’idz bin Amru r.a ketika memasuki rumah Ubaidilah bin Ziyad, ia berkata, ‘Hai anakku saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sejahat-jahatnya pemerintahan yaitu yang kejam, maka janganlah kau tergolong dari mereka.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Menurut M Quraish Shihab Sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, sebagaimana Allah SWT berfirman:

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash, 28: 26)

Artinya : “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan Tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (QS. Yusuf, 12: 54)

D. PEMIMPIN YANG ADIL
Setiap orang Islam harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dan segala tindakannya tanpa didasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu. Akan tetapi, pemimpin yang adil dan betul-betul memperhatikan dan berbuat sesuai dengan aspirasi rakyatnya, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam sebagaimana firman-Nya sebagai berikut :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa’, 4: 135)

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl, 16: 90)

Artinya : “Dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS Al-Hujurat, 49: 9)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah, 5: 8)

Ayat di atas berisikan perintah untuk berbuat adil kepada setiap pemimpin dimanapun dan kapanpun. Misalkan seorang raja, harus berusaha untuk berbuat seadil-adilnya dan sebijaksana mungkin menjalankan perintah Allah SWT, dalam memimpin rakyatnya sehingga rakyatnya dapat hidup dengan sejahtera.

Sebaliknya, apabila raja berlaku semena-mena, selalu bertindak sesuai kemauannya sendiri, bukan didasarkan peraturan yang ada, maka rakyat yang dipimpinnya akan sengsara. Dengan kata lain, pemimin harus meniptakan keharmonisan antara dirinya dengan rakyatnya sehingga timbullah timbale balik diantara keduanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya : “Auf bin Malik r.a berkata: bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sebaik-baik pemimpin ialah yang kamu cintai dan cinta padamu, dan kamu do’akan dan mereka mendo’akanmu. Dan sejahat-jahatnya pemimpinmu ialah yang kamu benci dan merekapun membenci kamu, dan kamu kutuk dan mereka mengutuk kamu.’ Sahabatnya bertanya, ‘Bolehkah kami menentang (melawan mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tidak selamanya mereka tetap menegakkan sholat. ” (H.R Muslim)

Begitu pula seorang suami, istri penggembala dan siapa saja yang memiliki tanggungjawab dalam memimpin harus berusaha untuk berlaku adil dalam kepemimpinannya sehingga iamendapat kemuliaan sebagaimana janji Allah SWT yang dinyatakan dalam sebuah hadits:

Artinya : “Abdullah Ibnu Al-Amru Al-Ash berkata, Rasululah bersabda :“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi Allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, yaitu mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) mereka.” (H.R. Muslim)

BAB III
PENUTUP

Seorang pemimpin adalah orang yang dipercayai oleh Allah SWT untuk memelihara sebagian kecil dari hamba-Nya di dunia. Maka ia harus berusaha utuk memelihara dan menjaganya. Jika tidak, ia tidak akan pernah merasakan harumnya surga, apa lahi merasakan kenikmatan menjadi penghuni surga.

Agar kaum muslimin menjadi pemimpin yang adil, yang mampu memelihara dan menjaga mereka, pemimpin yang dipilih adalah mereka yang betu-betul dapat dipercaya dan kuat dalam kepemimpinannya.

Pemimpin (pemelihara) dan akan dimitai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya, baik pemimpin negara, keluarga, pemimpin rumah suami dan anak-anak,penggembala,dan barang siapa yang memilikitanggungjawab, termasuk pemimpin dirinya sendiri. Semuanya akan dimintai pertnggungjawaban..
Kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat merupakan jaminan bagi para pemimpin yang adil dan sebaliknya kesengsaraan dan siksaan pedih bagi para pemimpin yang tidak adil.

DAFTAR PUSTAKA

Baqi, Muhammad Fuad Abdul. 2011. Al-Lu’lu’ wal Marjan: Muiara Hadits Shahih Bukhari. Jakarta: Ulumul Qura’

Fakih, Aunur Rohim. Iip Wijayanto. 2001. Kepemimpinan Islam. Yogyakarta: UII Press

Fatchurrohman. Al-Haditsun Nabawy. Menara kudus

Syafe’i, Rachmad. 2000. Al-Hadits (Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum). Bandung: Pustaka Setia

Shihab, Muhammad Quraish. 2008. Lentera Al-Qur’an: Kisah dan Hikmah Kehidupan. Bandung: PT Mizan Pustaka

Yahya, Al-Imam Abu Zakaria. 1999. Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1. Jakarta: Pustaka Amani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: