HADITS DARI SEGI KUANTITAS

September 8, 2014 at 6:03 am (Uncategorized)

Hadits ditinjau dari segi kuantitasnya atau jumlah perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.

Hadits Mutawatir

a.  Definisi hadits mutawatir

Mutawatir menurut bahasa adalah, mutatabi yakni sesuatu yang datang berikut dengan kita atau yang   beriringanantara satu dengan lainnya tanpa ada jaraknya.[1] Sedangkan hadits mutawatir menurut istilah terdapat beberapa formulasi definisi, antara lain sebagai berikut:

Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta.Sementara itu Nur ad-Din Atar mendefinisikan : Hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang terhindar dari kesepakatan mereka untuk berdusta (sejak awal sanad) sampai akhir sanad dengan didasarkan panca indra.

Habsy As-Sidiqie dalam bukunya Ilmu Musthalah al hadits mendefinisikan hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan berdasarkan pengamatan panca indra orang banyak yang menurut adat kebiasaan mustahil untuk berbuat dusta.

b.  Syarat- syarat hadits mutawatir

  1. pewartaan yang disampaikan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan panca indra. Yakni warta yang mereka sampaikan itu benar-benar hasil penglihatan atau pendengaran sendiri.
  2. jumlah rowi-rowinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat untuk berbohong.[2]

Ulama hadis berbeda pendapat tentang berapa jumlah bilangan rawinya untuk dapat dikatakan sebagai hadis mutawatir. Ada yang mengatakan harus empat rawi[3], sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa jumlahnya minimal lima orang, seperti tertera dalam ayat-ayat yang menerangkan mengenai mula’anah[4]. Ada yang minimal sepuluh orang, sebab di bawah sepuluh masih dianggap satuan atau mufrad, belum dinamakan jama’, ada yang minimal dua belas orang[5], ada yang dua puluh orang[6], ada juga yang mengatakan minimal empat puluh orang[7], ada yang tujuh puluh orang[8], dan yang terakhir berpendapat minimal tiga ratus tiga belas orang laki-laki dan dua orang perempuan, seperti jumlah pasukan muslim pada waktu Perang Badar. Kemudian menurut as-Syuyuti bahwa hadis yang layak disebut mutawatir yaitu paling rendah diriwayatkan oleh sepuluh orang.

  1. Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam thabaqoh pertama dengan jumlah rawi-rawi dalam thobaqoh berikutnya. Oleh karena itu, kalau suatu hadits diriwayatkan oleh sepuluh sahabat umpamanya, kemudian diterima oleh lima orang tabi’I dan seterusnya hanya diriwayatkan oleh dua orang tabi’it-tabi’in, bukan hadits mutawatir. Sebab jumlah rawi-rawinya tidak seimbang antara thabaqoh pertama, kedua dan ketiga

c.  Pembagian hadits mutawatir

Para ahli ushul membagi hadits mutawatir kepada dua bagian. Yakni mutawatir lafdzi dan mutawatir ma’nawi.

  • Hadits mutawatir lafdzi adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang susunan redaksi dan ma’nanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya. Contoh hadits mutawatir lafdzi adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ

عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

             artinya”Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka tempat tinggalnya adalah neraka”.

Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari enam puluh dua sahabat dengan teks yang sama, bahkan menurut As-Syuyuti diriwayatkan lebih dari dua ratus sahabat.

  • Hadits mutawatir ma’nawi adalah hadits yang rawi-rawinya berlainan dalam menyusun redaksi pemberitaanya, tetapi berita yang berlainan tersebut terdapat pesesuaian pada prinsipnya. Contoh hadits ini adalah hadits yang menerangkan kesunnahan mengangkat tangan ketika berdoa. Hadits ini berjumlah sekitar seratus hadits dengan redaksi yang berbeda-beda, tetapi mempunyai titik persamaan, yaitu keadaan Nabi Muhammad mengangkat tangan saat berdo’a.

d.  Faedah hadits mutawatir

Hadits mutawatir itu memberikan faedah ilmu dhoruri, yakni keharusan untuk menerimanya dan mengamalkan sesuai dengan yang diberitakan oleh hadits mutawatir tersebut hingga membawa pada keyakinan qoth’I (pasti).[9] Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa suatu hadits dianggap mutawtir oleh sebagian golongan membawa keyakinan pada golongan tersebut, tetapi tidak bagi golongan lain yang tidak menganggap bahwa hadits tersebut mutawatir. Barang siapa telah meyakini ke-mutawatir-an hadits diwajibkan untuk mengamalkannya sesuai dengan tuntutannya. Sebaliknya bagi mereka yang belum mengetahui dan meyakini kemutawatirannya, wajib baginya mempercayai dan mengamalkan hadits mutawatir yang disepakati oleh para ulama’ sebagaimana kewajiban mereka mengikuti ketentuan-ketentuan hokum yang disepakati oleh ahli ilmu.[10]

Para perawi hadits mutawatir tidak perlu dipersoalkan, baik mengenai kesdilan maupun kedhobitannya, sebab dengan adanya persyaratan yang begitu ketat, sebagaimana telah ditetapkan diatas, menjadikan mereka tidak munkin sepakat melakukan dusta.

Hadits Ahad

a.  Definisi hadits ahad

Kata ahad atau wahid berdasarkan segi bahasa berarti satu, maka khobar ahad atau khobar wahid berarti suatu berita yang disampaikan oleh orang satu. Adapun yang dimaksud hadits ahad menurut istilah, banyak didefinisikan oleh para ulama’, antara lain:

Hadits ahad adalah khobar yang jumlah perowinya tidak sebanyak jumlah perowi hadits mutawatir, baik perowi itu satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya yang memberikan pengertian bahwa jumlah perawi tersebut tidak mencapai jumlah perowi hadits mutawatir. Ada juga ulama’ yang mendefinisikan hadits ahad secara singkat yaitu: hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir.

Muhammad Abu Zarhah mendefinisikan hadis ahad yaitu tiap-tiap khobar yang yang diriwayatkan oleh satu,dua orang atau lebih yang diterima oleh Rosulullah dan tidak memenuhi persyaratan hadits mutawatir.

Abdul Wahab Khallaf mendefinisikan hadits ahad adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu, dua, atau sejumlah orang tetapi jumlahnya tersebut tidak mencapai jumlah perawi hadits mutawatir. Keadaan perawi seperti ini terjadi sejak perawi pertama sampai perawi terakhir.[11]

b.  Pembagian hadits ahad

Para muhadditsin membagi atau memberi nama-nama tertentu bagi hadits ahad mengingat banyak sedikitnya rawi-rawi yang berada pada tiap-tiap thabaqot, yaitu Hadits Masyhur, Hadits Aziz, dan Hadits Ghorib.

  • Hadits Masyhur Adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi atau lebih dan tidak sampai pada batasan mutawatir[12]. Ibnu Hajar mendefinisikan hadits masyhur secara ringkas, yaitu hadits yang mempunyai jalan terhingga, tetapi lebih dari dua jalan dan tidak sampai kepada batas hadits mutawatir.[13] Hadits ini dinamakan masyhur karena telah tersebar luas dikalangan masyarakat. Ada ulama’ yang memasukkan seluruh hadits yang popular dalam masyarakat, sekali pun tidak mempunyai sanad, baik berstatus shohih atau dhi’if ke dalam hadits masyhur. Ulama’ Hanafiah mengatakan bahwa hadits masyhur menghasilkan ketenangan hati, kedekatan pada keyakinan dan kwajiban untuk diamalkan, tetapi bagi yang menolaknya tidak dikatakan kafir. Contoh hadits masyhur:

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ

وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

          Hadis tersebut sejak tingkatan pertama (sahabat) sampai ketingkat imam-imam yang membukukan hadis (dalam hal ini adalah Bukhari, Muslim dan Tirmidzi) diriwayatkan tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan.

Hadis masyhur ini ada yang berstatus sahih, hasan dan dhaif. Yang dimaksud dengan hadis masyhur sahih adalah hadis masyhur yang telah mencapai ketentuan-ketentuan hadis sahih baik pada sanad maupun matannya, seperti hadis dari Ibnu Umar:

اذ ا جاءكم الجمعمة فليفسل

          Sedangkan yang dimaksud dengan hadis masyhur hasan adalah apabila telah mencapai ketentuan hadis hasan, begitu juga dikatakan dhoif jika tidak memenuhi ketentuan hadis sahih.

  • Hadits Aziz, Dinamakan Aziz karena kelangkaan hadits ini. Sedangkan pengertiannya adalah hadits yang jumlah perowinya tidak kurang dari dua. Contoh:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ[14].

          Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari dua sahabat yakni Anas dan Abi Hurairoh. Hadis aziz juga ada yang sahih, hasan dan dhaif tergantung pada terpenuhi atau tidaknya ketentuan –ketentuan yang berkaitan dengan sahih, hasan dan dhoif.[15]

  • Hadits Ghorib Adalah hadits yang diriwayatkan satu perowi saja. Hadits Ghorib terbagi menjadi dua: yaitu ghorib mutlaq dan ghorib nisbi. Gorib mutlaq terjadi apabila penyendirian perawi hanya terdapat pada satu thabaqat. Contoh :

أَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ أَحْمَدَ أَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ أَنْبَأَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ اللَّخْمِىُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْبَاقِى الأَذَنِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَيْرِ بْنُ النَّحَّاسِ حَدَّثَنَا ضَمْرَةُ عَنْ سُفْيَانَ

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ : الْوَلاَءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ.[16]

          Artinya: “kekerabatan dengan jalan memerdekakan, sama dengan kekerabatan dengan nasab, tidak boleh dijual dan tidak boleh dihibahkan”.

Hadis ini diterima dari Nabi oleh Ibnu Umar dan dari Ibnu Umar hanya Abdullah bin Dinar saja yang meriwayatkanya. Sedangkan Abdulallah bin Dinar adalah seorang tabiin hafid, kuat ingatannya dan dapat dipercaya. Hadis ghorib nisbi terjadi apabila penyendiriannya mengenai sifat atau keadaan tertentu dari seorang perawi. Penyendirian seorang rawi seperti ini bisa terjadi berkaitan dengan kesiqahan rawi atau mengenai tempat tinggal atau kota tertentu. Contoh dari hadis ghorib nisbi berkenaan dengan kota atau tempat tinggal tertentu:

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَأُمِرْنَا أَنْ نَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَمَا تَيَسَّرَ.[17]

          Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad Abu Al-Walid, Hamman, Qatadah, Abu Nadrah dan Said. Semua rawi ini berasal dari Basrah dan tidak ada yang meriwayatkannya dari kota-kota lain.[18]

KESIMPULAN

  1. Hadits Mutawatir adalah Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang menurut adat mustahil mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta.
  2. Hadits mutawatir lafdzi adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak yang susunan redaksi dan ma’nanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya.
  3. Hadits mutawatir ma’nawi adalah hadits yang rawi-rawinya berlainan dalam menyusun redaksi pemberitaanya, tetapi berita yang berlainan tersebut terdapat pesesuaian pada prinsipnya.
  4. Hadits Ahad adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir.
  5. Hadits Masyhur Adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga rowi atau lebih dan tidak sampai pada batasan mutawatir.
  6. Hadits Aziz adalah hadits yang jumlah perowinya tidak kurang dari dua.
  7. Hadits Ghorib Adalah hadits yang diriwayatkan satu perowi saja.

 

[1] Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, hlm:113

[2] Fathur Rahman.1974. Ikhtisar Musthathalah al Hadits. Al Ma’arif: Bandung.hlm.79

[3] Hal ini berdasarkan firman Allah:”Mengapa mereka(menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?”.S.An-Nur:13

[4] Seperti S.An-Nur 6-9:”Dan orang-orang yang menuduh isterinya(berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Dan sumpah yang kelima bahwa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang –orang yang berdusta. Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”.

[5] Berdasarkan S.Al-Maidah 11:”Dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin”.

[6] Berdasarkan S.Al-Anfal 65 :”Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh”.

[7] Berdasarkan S.Al-Anfal 64 :”Hai Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang mukmin yang mengikutimu(menjadi penolongmu)”. Pada waktu ayat terakhir turun, jumlah mereka mencapai empat puluh orang laki-laki disebabkan Umar telah masuk Islam.

[8] Berdasarkan S.aL-A’raf 155 :”Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk(memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan”.

[9] Fathur Rahman.1974. Ikhtisar Musthathalah al Hadits. Al Ma’arif: Bandung.hlm.84.

[10] Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, hlm:123

[11] Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, hlm:126

[12] . Dr. Umar Hasyim, Qowaid Usul al-Hadits,hlm:58.

[13] DR. Muhammad Ijaz al Khotibi. 1989. Ushulul Hadits. Darul Fikr. Hlm. 302.

[14] Shohih Bokhori. Hlm.24

[15] Mudasir, Ilmu Hadis, Pustaka Setia, hlm:134

[16] Baihaqi. Sunan al Qubra. Hlm. 1254

[17] Sunan Abu Dawud. Hlm. 478

[18]Ibid. hlm.136

 

Iklan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

September 7, 2014 at 8:56 am (Uncategorized)

PENDAHULUAN

Kepemimpinan Islam meliputi banyak hal, karena seorang pemimpin dalam perspektif islam memilili fungsi ganda yanitu: sebagai seorang khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi yang harus merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Dan sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang patuh dan senantiasa terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Pemimpin ialah seorang yang diserahi untuk mengatur urusan-urusan dan kemaslahatan bersama yang sangat diperlukan. Seperti kepala Negara, Menteri, Dewan perwakilan, dan lain sebagainya SWT.
Dalam pandangan Islam pemimpin adalah orang yang diberikan amanat oleh Allah SWT. Untuk memimpin rakatnya, yang diakhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits diatas. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meloloskan diri dari tuntunan rakyatnya, karea ketidakadilannya, akan tetapi ia tidak mempu meloloskan diri dari tuntutan Allah SWT kelak di akhirat.
Setiap orang Islam harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dan segala tindakannya tanpa didasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu.

BAB II
PENJELASAN
A. PEMIMPIN
1. Pengertian Pemimpin
Ott (1996) mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses hunungan antar pribadi yang didalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan dan perilaku orang lain. Adapun menurut Lock et al (1991) kepemimpinan sebagai proses membentuk orang lain untuk mnegambil langkah menuju sasaran bersama. Sehubung dengan kedua pendapat tersebut, Soehardi Sigit mengutip pendapat George R. Terry yang mengatakan bahwa: “leadership is the relationship in wich on the person, the leader, influence the others to work together willingly on related task to attain that which the leader desire ” (Kepemimpinan adalah hubungan dimana didalamnya antara orang dan pemimpin saling mempengaruhi agar mau bekerjasama berbagai tugas untuk mencapai keinginan sang pemimpin.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin dan yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara mempengaruhi atau membujuk. Dari sini dapat dipahami bahwa tugas seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuan dalam melaksanakan program-program yang ada, tetapi juga mampu melibatkan seluruh lapisan organisasinya atau masyarakatnya ikut andil atau berpartisipasi secara aktif, sehingga akan memunculkan kontribusi yang positif pula.
2. Kepemimpinan dalam Islam
Kepemimpinan Islam meliputi banyak hal, karena seorang pemimpin dalam perspektif islam memilili fungsi ganda yanitu: sebagai seorang khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi yang harus merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Dan sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang patuh dan senantiasa terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah SWT. Jika dilihat teori dan fungsi dan peran seorang pemimpin oleh pemikir-pemikir dari dunia barat, maka kita hanya menemukan kepemimpinan itu sebagai sebuah komsep realisi, proses otoritas meupun kegiatan mempengaruhi secara horisontal.
Dalam teori manajemen, fungsi pemimpin diletakkan pada posisi yang tidak terlalu berbeda dengan peran pemimpin dalam teori kepemimppinan yaitu sebagai perencana sekaligus pengambil keputusan (planing and decision make), pengorganisasian (controlling) dan lain-lain.
Adapun pengertian kepemimpinan Islam dapat dilihat dario pendapat Hadari Nawawi dalam bukunya (Kepemimpinan Menurut Islam. Hal, 39) adalah sebagai berikut sebagai berikut:
a. Pengertian Spiritual
Dalam islam kepemipinan berasal dari kata “khalifah” yang berarti wakil, ataupun “amir” (jamak dari Umara) ataupun penguasa. Oleh karena itu, kemudian kedua istilah ini didalam Bahasa Indonesia disebut pemimpin yang cenderung berkonotasi pemimpin formal. Namun jika merujuk pada firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 30, sebagai berikut:

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah, 2: 30)

Maka kedudukan non formal dari seorang khalifah juga tidak bisa disangkal lagi. Perkataan Khalifah di dalam ayat tersebut tidak hanya ditujukan kepada para khalifah sesudah Nabi, tetapi adalah penciptaan Nabi Adam yang disebut sebagai manusia dengan tugas untuk memakmurkan bumi yang meliputi tuigas menyeru orang lain berbuat ma’ruf dam mencegah dari perbuatan mungkar.
Dalam pengertian spiritual ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kepemimpinan islam secara mutlak adalah bersumber dari Allah SWT yang telah menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini. Sehingga dimensi kontol tidak terbatas pada interaksi antara yang memimpin (umara) dengan yang dipimpin, tetapi baik antara pemimpin maupun rakyat yang dipeimpin harus sama-sama mempertanggung-jawabkan amanah yang diembannya sebagai seorang khalifah Allah dimuka bumi ini, secara komprehensif.
b. Pengertian Empiris
Kepemimpinan adalah kegiatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam sejarah kehidupan manusia tentnya sangat banyak pengalaman kepemimpinan yang dapat dipelajarinya. Pengalaman itu perlu dianalisis untuk mendapatkan pelajaran yang bereharga dalam mewujudkan kepemimpinan yang efektif dan diridhai oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan konsep yang ada didalam Al-Quran, yang didalamnya banyak dimuat kisah-kisah umat masalalu sebagai pelajaran bagi umat yang akan datang
Untuk memahami kepemimpinan secara empiris ini, maka perlu dipahami terlebih dahulu tinjauan dari segi terminologinya. Secara etimologis (ilmu asal kata) berdasarkan kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata “pimpin” dengan mendapatkan kata awal “me” yang berarti menuntun, menunjukkan jalan, membimbing. Perkataan lain yang disamakan artinya adalah mengetuai, mengepalai, memandu dan melatih. Dalam bentuk kegiatan, maka sipelaku disebut pemimpin. Dengan kata lain pemimpin adalah oarang yang memimpib, mengetuai atau mengepalai. Dari sini berkembang lagi istilah “Kepemimpinan” dengan tambahan awalan “ke”, yang menunjukkan pada semua aspek kepemimpinan.
Dalam Al-Qur’an banyak dijumpai istilah-istilah yang berhubungan dengan pemimpin. Seperti istilah khalifah yang terdapat pada QS. Al-baqarah: 30, istilah Ulil Amri yang terdapat QS An-Nisa:59, istilah Wali, yang disebutkan dalam QS. Al-Maidah: 55. Dalam hadits Nabi, istilah pemimpin dijimpai dalam kalimat “La’in atau amir” seperti dalam hadits yang disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari. Istilah-istilahtersebuit memberi pengertian bahwa kepemimpinan adalah kegiatan menuntun, memandu dan menunjukkan jalan yang dirihai Allah.

Pemimpin ialah seorang yang diserahi untuk mengatur urusan-urusan dan kemaslahatan bersama yang sangat diperlukan. Seperti kepala Negara, Menteri, Dewan perwakilan, dan lain sebagainya.

Artinya :“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara, imam) adalah pemimpin manusia secara umum,akan dimintai per-tanggungjawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarga adalah pemimpin dan akan dimintai petanggungjawab atas mereka. Seorang istri adalah seorang pemoimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuialah bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai petanggungjawaban atas siapa saja yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari, Kitab: “Mmbebaskan budak (49). Bab: Larangan memperpanjang kebudakan.(17)”.

Hadits diatas menjelaskan tentang kepemimpinan. setiap muslim dalam berbagai posisi dan tingkatannya. Mulai dari tingkatan pemimpin rakyat sampai tingkatan pengembala, bahkan sebenarnya tersirat sampai tingkatan memimpin diri sendiri. Semua orang pasti memiliki tanggungjawab dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT atas kepemimpinannya kelak di akhirat.

B. PERTANGGUNGJAWABAN PEMIMPIN

Artinya :Dari Abu Ya’la Ma’qil bin Yasar r.a, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Seorang hamba yang diberi Allah SWT kepercayaan memimpin rakyatnya, dan ia mati dalam keadaan menipu rakyat, pasti Allah mengharamkan surga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat muslim dikatakan: “Seorang penguasa yang menguasai urusan umat Islam, sedang ia tidak memperhatikan dan memberi nasihat, pasti ia tidak akan masuk surga bersama mereka”

Artinya : Dari Aisyah r.a, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda dirumahku ini: “Ya Allah, siapa saja yang diberi kekuasaan mengurusi umatku kemudian ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.” (HR. Muslim)

Arinya : Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Dahulu, bani Israil selaklu dibimbing oleh para Nabi. Setiap seorang Nabi wafat, maka ia digantikan oleh Nab yang lain. Tetapi tidak akan ada lagi Nabi sesudah-ku, yang ada hanya para khalifah, bahkan sangat banyak jumlahnya.” Para sahabat bertanya:’Apa yang engkau perintahkan pada kami?’ Beliau menjawab: “Tepatilah bai’at-mu (janji setia) yang pertama, kemudian berikan kepada mereka apa yang menjadi haknya. Dan Mohonlah kepada Allah agar apa yang menjadi hakmu terpenuhi. Karena Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka didalam memimpin umat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya : Dari Abu Maryam Al-Azdiy r.a, ia berkata keada Mu’awiyah r.a: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Siapa saja yang diberi kekuasaan oleh Allah mengurusi umat islam, sedang ia tidak memperhatikan kediudukan dan kemiskinan mereka, maka Allah tidak akan memperhatikan kepentingan, kedudukan, dan kemiskinannya pada hari kiamat.” Kemudia Mu’awiyah mengangkat seseorang untuk mengurusi segala kepentingan manusia. (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

C. ETIKA PEMIMPIN
1. Perspektif Al-Qur’an
Al-qur’an sebagai pedoman utama umat Islam telah memberikan kriteria-kriteria tertentu sebagai landasan bagi seorang pemimpin, adapun kriteria sebagai berikut:
a. Mencintai kebenaran
b. Dapat menjaga amanah
c. Ikhlas dan meniliki semangat pengabdian
d. Baik dalam pergaulan masyarakat
e. Bijaksana
2. Perspektif al-Hadits
a. Memimpin untuk melayani
b. Zuhud terhadap kekuasaan
c. Jujur dan tidak munafik
d. Memiliki visi keummatan (Terbebas dari fanatisme)
e. Memiliki Tanggungjawab Moral

Artinya : Al-Hasan berkata, Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qal bin Yasar r.a ketika ia sakit, yang menyebabkan kematannya, Ma’qal berkata kepada Ubaidillah bin Ziyad, ‘Aku akan menyampaikan kepadamu sebuah hadits yang telah aku dengar dari Rasulullah SAW, aku telah mendengar Nabi SAW bersabda: “Tiada seorang hamba yang diberi amanat rakyatnya oleh Allah SWT lalu ia tidak memeliharanya dengan baik, melainkan Allah tidak akan merasakan padanya harumnya surga (melainkan tidak mendapat bau surga.”
(Imam Bukhari dalam kitab “Hukum-hukum”, bab: “Orang yang bideri amanat kepemimpinannya.”)

Dalam pandangan Islam pemimpin adalah orang yang diberikan amanat oleh Allah SWT. Untuk memimpin rakatnya, yang diakhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alah SWT. Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits diatas. Dengan demikian, meskipun seorang pemimpin dapat meloloskan diri dari tuntunan rakyatnya, karea ketidakadilannya, akan tetapi ia tidak mempu meloloskan diri dari tuntutan Allah SWT kelak di akhirat.

Maka hendaklah seorang pemimpin harus berusaha memposisikan dirinya sebahai pelayan dan pengayom masyarakat sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Dalam sebuah hadits yang diterima oleh Siti Aisyah dan diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah berdo’a, “Ya Allah, siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku lalu mempersulit mereka, maka persulitlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku dan berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya sangat perduli terhadap hambanya agar terjaga dari kedzaliman para pemimpin yang kejam dan tidak bertanggungjawab. Perintah yang kejam dikategorikan sebagai sejahat-jahatnya perintah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebagai berikut:

Arinya : “A’idz bin Amru r.a ketika memasuki rumah Ubaidilah bin Ziyad, ia berkata, ‘Hai anakku saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sejahat-jahatnya pemerintahan yaitu yang kejam, maka janganlah kau tergolong dari mereka.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Menurut M Quraish Shihab Sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, sebagaimana Allah SWT berfirman:

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al Qashash, 28: 26)

Artinya : “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan Tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (QS. Yusuf, 12: 54)

D. PEMIMPIN YANG ADIL
Setiap orang Islam harus berusaha untuk menjadi pemimpin yang paling baik dan segala tindakannya tanpa didasari kepentingan pribadi atau kepentingan golongan tertentu. Akan tetapi, pemimpin yang adil dan betul-betul memperhatikan dan berbuat sesuai dengan aspirasi rakyatnya, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam sebagaimana firman-Nya sebagai berikut :

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa’, 4: 135)

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl, 16: 90)

Artinya : “Dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS Al-Hujurat, 49: 9)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah, 5: 8)

Ayat di atas berisikan perintah untuk berbuat adil kepada setiap pemimpin dimanapun dan kapanpun. Misalkan seorang raja, harus berusaha untuk berbuat seadil-adilnya dan sebijaksana mungkin menjalankan perintah Allah SWT, dalam memimpin rakyatnya sehingga rakyatnya dapat hidup dengan sejahtera.

Sebaliknya, apabila raja berlaku semena-mena, selalu bertindak sesuai kemauannya sendiri, bukan didasarkan peraturan yang ada, maka rakyat yang dipimpinnya akan sengsara. Dengan kata lain, pemimin harus meniptakan keharmonisan antara dirinya dengan rakyatnya sehingga timbullah timbale balik diantara keduanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya : “Auf bin Malik r.a berkata: bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sebaik-baik pemimpin ialah yang kamu cintai dan cinta padamu, dan kamu do’akan dan mereka mendo’akanmu. Dan sejahat-jahatnya pemimpinmu ialah yang kamu benci dan merekapun membenci kamu, dan kamu kutuk dan mereka mengutuk kamu.’ Sahabatnya bertanya, ‘Bolehkah kami menentang (melawan mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tidak selamanya mereka tetap menegakkan sholat. ” (H.R Muslim)

Begitu pula seorang suami, istri penggembala dan siapa saja yang memiliki tanggungjawab dalam memimpin harus berusaha untuk berlaku adil dalam kepemimpinannya sehingga iamendapat kemuliaan sebagaimana janji Allah SWT yang dinyatakan dalam sebuah hadits:

Artinya : “Abdullah Ibnu Al-Amru Al-Ash berkata, Rasululah bersabda :“Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi Allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, yaitu mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) mereka.” (H.R. Muslim)

BAB III
PENUTUP

Seorang pemimpin adalah orang yang dipercayai oleh Allah SWT untuk memelihara sebagian kecil dari hamba-Nya di dunia. Maka ia harus berusaha utuk memelihara dan menjaganya. Jika tidak, ia tidak akan pernah merasakan harumnya surga, apa lahi merasakan kenikmatan menjadi penghuni surga.

Agar kaum muslimin menjadi pemimpin yang adil, yang mampu memelihara dan menjaga mereka, pemimpin yang dipilih adalah mereka yang betu-betul dapat dipercaya dan kuat dalam kepemimpinannya.

Pemimpin (pemelihara) dan akan dimitai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya, baik pemimpin negara, keluarga, pemimpin rumah suami dan anak-anak,penggembala,dan barang siapa yang memilikitanggungjawab, termasuk pemimpin dirinya sendiri. Semuanya akan dimintai pertnggungjawaban..
Kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat merupakan jaminan bagi para pemimpin yang adil dan sebaliknya kesengsaraan dan siksaan pedih bagi para pemimpin yang tidak adil.

DAFTAR PUSTAKA

Baqi, Muhammad Fuad Abdul. 2011. Al-Lu’lu’ wal Marjan: Muiara Hadits Shahih Bukhari. Jakarta: Ulumul Qura’

Fakih, Aunur Rohim. Iip Wijayanto. 2001. Kepemimpinan Islam. Yogyakarta: UII Press

Fatchurrohman. Al-Haditsun Nabawy. Menara kudus

Syafe’i, Rachmad. 2000. Al-Hadits (Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum). Bandung: Pustaka Setia

Shihab, Muhammad Quraish. 2008. Lentera Al-Qur’an: Kisah dan Hikmah Kehidupan. Bandung: PT Mizan Pustaka

Yahya, Al-Imam Abu Zakaria. 1999. Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1. Jakarta: Pustaka Amani

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Khalifah Abu BAkar Siddiq

November 7, 2009 at 1:36 pm (Uncategorized)

KHALIFAH ABU BAKAR SIDDIQ

1. SILSILAH KELUARGA ABU BAKAR
Pada masa jahiliyah Khalifah Abu Bakar bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi Muhammad SAW dengan nama Abu Bakar Siddik. Nama Abu Bakar adalah nama kuniyah atau nama julukan. Beliau di beri nama Abu Bakar karena pagi-pagi betul (paling awal) beliau telah masuk islam. Ada pula ahli sejarah yang menyatakan bahwa adi berinya julukan Abu Bakar itu, karena beliau anak pertama yang hidup, kakak-kakaknya meninggal ketika amsih bayi. Ibunya bernazar, jika di karuniai anak yang hidup, maka akan di beri nama abdul ka’bah.
Abu Bakar di beri gwelar as-siddq (artinya yang amanat membenarkan) karena beliau amat segera dan selalu membenarkan Rosulullah dalam berbagaui peristiwa yang di alami Rosulullah, terutama pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Adapun silsilah (keturunan) Abu Bakar siddiq dari ayah adalah Abu Bakar (Abdullah) bin Quhafah (usman) bin Umar Ka’ab bin Sa’id bin Taimi bin Murrah bin Luayyi bin Ghalib bin Fahrin Attami dari suku Quraisy. Sedangkan keturunan dari ibunya adalah Abu Bakar bin Ummul khair binti Shahr bin Umar bin Ka’ab bin Taimi bin Murrah. Jadi silsilah Abu Bakar Siddiq dari ayah dan ibunya bertemu pada kakeknya yang bernama Umar bin Ka’ab.
Sailsilah Abu Bakar Siddiq dengan Rosulullah Nabi Muhammad SAW bertemu pada Murrah bin Ka’ab.
Kedudukan Abu Bakar Siddiq dalam masyarakat kafir Quraisy
Quraisyu adalah salah satu dari nama suku/bangsa yang berada di wilayah jazirah Arab. Tiap-tiap suku tertdiri atas beberapa anak keturunan yang disebut klan atau wangsa. Menuruttradisi bangsa Arab, anak keturunan atau klan itu disebut bani, misalnya Bani Hasyim, Bani Taym, dan Bani Zuhrah.
Abu Bakar adalah termasuyk keturunan/klan Taym dari suku Quraisy. Abu Bakar dilahirkan dari keluarga bangsawan, yang mempunyai kedudukan yang penting dan terhormat di antara klan-klan yang lainnya.
Setelah menginjak dewasa, beliau memilih pekerjaan di bidang perdagangan. Abu Bakar di kenal sebagai orang yang jujur fdan di siplin, terutama dalam hal memegang amanah. Sewhingga dengan sikap-sikap seperti ituusaha dagangannya mencapai sukses besar. Sebelum masuk islam,beliau telah memiliki tabungan (simpanan) sebanyak 40.000 (empat puluh ribu) dirham.
Selain ahli dalam perdagangan, Abu Bakar terkenal cerdas dan luas ilmu penetahuannya. Beliau termasuk ahli di bidang sastra, sejarah, dan tafsir mimpi, juga seorang diplomat dan politikus yang cukup di segani di kalangan kaum kafir Quraisy
Sebagai orang yang terhormat di kalangan orang-orang Quraisy, maka Abu Bakar berjanji mengurusi segala urusan yang besar, terutama dalam hal menguasai dan mengurusi benda. Hal inilah yang menempatkan Abu Bakar pada kedudukan yang terhormat, melebihi kedudukan bangsawan yang mulia.

Abu Bakar mempunyai kedudukan yang terhormat di kalangan kaum kafir Quraisy karenha beberapa hal di antaranya:
1. tertmasuk keturunandari kalangan bangsawan,
2. mempunyai kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang luas,
3. kaya akan harta,
4. sebagai penanggung benda yang terpercaya.
2. KEHIDUPAN ABU BAKAR SEBELUM MASUK ISLAM DAN PERGAULANYA DENGAN NABI MUHAMMAD SAW
a. Kehidupan Abu Bakar sebelum masuk islam
Abu Bakar siddiq lahir di kota makkah, beliau hidup di tengah-tengah keluarga bangsawan suku quraisy. Sebelum datang islam, kaum Quraisy menganut kepercayaan animisme, yaitu: menyembah berhala. Mereka gemar berpesta pora, mabuk-mabukan, minum arak dan sebagainya.
Pada umumnya masyarakat quraisy hidup dengan mata pencaharian berdagang. Mereka berdagang dari satu tempat ke tempat lain secara berombongan (kafilah).
b. pergaulan Abu Bakar dengan Nabi Muhammad SAW
Abu Bakar lahir 2tahun setelah NAbi SAW, jadi Abu Bakar lebih muda dari nabi SAW selisih 2 tahun.
Sejak kecil Abu Bakar sudah mengenal nabi SAW karerna mereka sama-sama keturunan dari suku Quraisy. Setelah menginjak dewasa, mereka sama-sama bekerja di Bidang perdagangan, terutama setelah nabi SAW menikah dengan Siti khadijah.
Abu Bakar dan nabi Muhammad sama-sama mengikuti perjanjian Khilfi Fudhul yaitu perjanjian untuk menetapkan keadaan kota makkah sebelum islam.
Selama bergaul dengan nabi Muhammad Saw belum pernah terjadi percekcokan atau perselisihan yang dapat merenggangkan tali persahabatanya. Hal ini lah yang mendorong Abu Bakar semakin tertarik dan lebih akrab dengan Nabi Muhammad SAW.
Sebelum nabi Menerima wahyu, Abu Bakar telah mengetahui cirri-ciri dan sifat-sifat kenabian nabi Muhammad. Abu Bakarlah orang pertama yang menerima dan masuk islam dari golongan dewasa.

3. SIKAP DAN PERJUANGAN ABU BAKAR DALAM MEMBELA NABI SERTA KAUM MUSLIMIN YANG TERTINDAS

Setelah dsatang islam, Abu Bakar selalu di sisi rosul dan selalu banyak andilnya dalam menyebarkan dakwah islam, dengan sikap dan pribadi Abu Bakar yang luhur, banyak orang yang tertarik kepadanya, sehingga banyak di antaraq teman-temanya yang masuk islam. Diantaranya yang masuk islam dan kemudian menjadi pembesar-pembesar islam yaitu: Usman bin Affan, Sa’ad bin Abi Waqos, Abdurrahman bin Auf, TAlhah bin Ubadillah, Zubair bin Awwam, Abu Amir bin Jarrah, dan lain sebagainya.
Pada masa-masa awal perjuanga dan da’wah islam, Rosulullah mengalami banyak hambatan. Kaum kafir Quraisy tidak hanya menolak ajakan atau dakwah Rosulullah, tetapi mereka membenci dan memusuhi bahkan akan berusaha membunuh Rosul dan melenyapkan ajaran-ajarannya. Abu Bakar dengan sikapnya yang berani, tewgas, dan bijaksana terus membela dan mendampingi Rosul dalam berdakwah mengajak umatnya ke jalan yang benar.

4. LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKSANAAN ABU BAKAR SETELAH MENJADI KHALIFAH DAN PERJUANGAN UTUK ISLAM

a. kesulitan-kesulitan yang di hadapi Abu Bakar ketika memjadi khalifah

jatuhnya kota makkah dari kaum kafir Quraisy ke tangan kaum muslimin pada tahun 8 H mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyiaran islam yang di lakukan oleh Rosulullah SAW. Setelah golongan Saqif dan Hawazin dapat di taklukan pada perang tabuk (thn 9H) maka banyak delegasi-delegasi (utusan) dari golongan atau suku Arab lainya yang datang kepada rosul untuk menyatakan masuk islam

b. langkah-langkah kebijaksanaan Abu Bakar

kholifah Abu Bakar memandang bahwa 3 masalah harus di selesaikan dengan segera, mengingat bahwa masalah-masalah tersebut justru sangat berbahaya karena dapat merusak agama islam dari dalam.
Untuk menghadapi masalah-masalah di atas, kholifah Abu Bakar mengumpulkan para pembesar kaum muslim untuk di ajak musyawarah. Dalam permusyawaratan itu, ada di antaranya kaum muslimin yang berpendapat bahwa tidak mungkin dapat memerangi bangsa Arab seluruhnya. Ada pula yang berpendapat bahwa terhadap pembangkang yang tidak mau membayar zakat, tidak ada suatu alasan untuk memerangi sepanjang mereka masih menyatakan imanya.

c. Perjuangan-perjuangan kholifah Abu Bakar untuk islam
1. membukukan alQur’an
setelah keadaan kembali aman dan tentram, mka kholifah Abu Bakar lebih berkonsentrasi untuk menegakkan isalam dari kemungkinan yang dapat merusak ajaran islam
diantara hal-hal yang terpenting yang segera harus di laksanakan adalah membukukan al-Qur’an.

2. perluasan wialayah islam
perluasan wilayah islam yang terpenting pada masa pemerintahan kholifah Abu Bakar (tahun 11-13 H) adalah perluasan wilayah ke negri Syam.
Negeri Syam saat itu menjadi wilayah jajahan bangsa Romawi.
kholifah Abu Bakar melihat bahwa kekuasaan bangsa Romawi di Syam itu Merupakan ancaman yang besar terhadap kaum muslimin. Mereka selalu mencari peluang yang baik untuk menghancurkan kaum muslimin.

kholifah Abu Bakar menyerahkan bala tentaranya dengan jumlah besar untuk di kirim ke Syam (Syiria). Mereka di bagi menjadi 4 pasukan antara lain:
• Pasukan yang di pimpin oleh Abu Ubaidah bin Jarrah di kirim ke Hims. Sekaligus Abu Ubaidah bin Jarrah di angkat kholifah Abu Bakar menjadi pimpinan tertinggi dari ke empat pasukan itu.
• Pasukan yang dipimpin oleh Yazid Ibnu Abi sofyan di tugaskan ke Damaskus.
• Pasukan yang dipimpin oleh Amru bin As di kirim ke Palestina.
• Pasukan yang dipimpin oleh Syurahibil bin Hasanah di kirim ke lembah Yordania.
Agar misi pertempuran di Syam ini berhasil, khalifah Abu Bakar mengubah strategi perang yaitu:
 Pasukan-pasukan islam di satukan untuk menghadapi laskar Romawi di Yarmuk
 Khalid bin Walid yang semula memimpin pertempuran di Irak, di tarik ke Syam untuk membantu pasukan islam di Syam, sekaligus ia di tunjuk sebagai panglima besarnya.

5. KHALIFAH ABU BAKAR WAFAT
Pada saat pertempuran Ajnadain di Syam sedang berlangsung, khalifah Abu Bakar menderita sakit. Sebelum khalifah Abu Bakar wafat, beliau bermaksud untuk menetapkan calon penggantunya. Cara ini beliau tempuh untuk menghindari perpecahan di kalangan kaum muslimin sendiri. Ketika itu kaum muslimin sedang dalam konsolidasi dan konsentrasi kekuatan untuk menaklukan kerajaan Romawi dan Persia.

Hasil perjuangan khalifah Abu Bakar selama memerintahsebagai khaliofdah yang tertpenting dalam sejarah islam antara lain sebagai berikut ini:
1. menumpas kaum murtad yang sengaja merong-erong dan merusak islam.
2. menumpas kaum pembangkang dan penyeleweng, baik orang-orang yang tak mau mrembayar zakat maupunorang-orang atau kelompok pendukung nabi palsu,
3. mengumpulkan (membukukan) al-Qur’an yanhg kemudian di sebut mushaf.
4. menyatukan wilayah arab di bawah panji-panji islam.
5. memantapkan stabilitas yang dinamik bagi pemantapan islam dalam negri.
6. mengawali sukses besar dalam perluasan wilayah di luar wilayah arab,yaitu syam (syiria).,

Permalink 2 Komentar

Hello world!

November 3, 2009 at 1:54 pm (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar